www.nurhidayah-solo.net
Website Resmi Yayasan Nur Hidayah Surakarta
Community
Username
Password
  Daftar   
Gadget
Jam Kalender Tell Friend RSS Feed
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ::: Selamat Datang di Website Yayasan Nur Hidayah Surakarta
SMAIT Nur Hidayah dukung IGOS (Indonesia Go Open Sources)
Seputar Yayasan | 2008-12-05

Computer Centre SMA IT Nur Hidayah under Ubuntu 8.04 

Rabu, 26 November 2008

Akhirnya komputer-komputer rakitan siswa di Computer Centre SMA IT Nur Hidayah berfungsi penuh. Sejak pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dimulai Juli 2008, para siswa merakit komputer mulai dari mainboard, RAM, prosesor dan segala atribut komputer lainnya. Tentu ada kendala yang dihadapi sehingga beberapa siswa sempat agak “gemes”kepada beberapa komputer bandel. Semua sudah terpasang dengan baik, koq komputer tidak bisa hidup! Usut punya usut ada beberapa komputer bermasalah dengan mainboard. Terpaksa mainboard dipulangkan lagi ke toko, mumpung masih garansi.  
Semua komputer sudah menyala, hanya tinggal satu unit yang belum, komputer lama pentium 1. “Mau diapakan ustadz, komputer jadul kayak gitu ?” tanya siswa . “Ya, kita lihat saja nanti, mungkin bisa jadi Router atau syukur-syukur jadi server seperti kepunyaan kambing.ui.edu yang pakai komputer bekas” jawab ustadz raharjo. “Apaan tuh ustadz, kambing ui ? Bukan sapi atau gajah ?” seloroh Biassukma, salah seorang siswa. Kontan seisi kelas tertawa. Sambil tersenyum ustadz raharjo menjawab “ kambing.ui.edu itu salah satu mirror GNU/linux di Indonesia.” Tampak kekagetan di wajah para siswa. “Lho, memangnya kita mau pakai operating system linux ustadz, bukan Windows ? “ tanya siswa penasaran. “Apa salah memakai linux, bukan Windows?” ganti ustadz raharjo bertanya. “Ya, nggak salah sih, tapi kan kita sudah terbiasa pakai Windows, masak kita harus belajar dari nol lagi” protes para siswa. “ OK, We'll try Windows in your computers system” jawab ustadz raharjo.


Siswa segera menginstalasi semua komputer dengan OS Windows sesuai dengan komputer proyek masing-masing. Dapat diduga, tanpa kesulitan berarti, Windows terpasang di semua komputer. Namun, kendala mulai dihadapi ketika siswa-siswa putri menginstalasi Microsoft Office 2007. Sebagian komputer ngambek tidak mau menerima instalasi. Hal itu terjadi karena sebagian flash disk siswa yang pernah dicolokkan ke komputer, membawa virus BSOD (Blue Screen of Death), padahal komputer proyek belum dipasang antivirus. Jangankan menjalankan instalasi, monitor proyek sering menampilkan warna biru dan minta direstart. Beda lagi kendala yang dihadapi siswa putra, saat mereka mencoba koneksi internet, menemui kegagalan. Ternyata LAN Ethernet onboard yang mereka gunakan belum terinstalasi dengan baik, diperlukan sotware driver tambahan yang kebetulan tidak disertakan ketika membeli mainboard. Download driver dari internet tidak membuahkan hasil, bahkan laporan googling memperlihatkan kegagalan serupa banyak dialami komputer yang menggunakan mainboard yang setipe. 


Pembelajaran jadi seret, namun bukan berarti mandeg. Justru ada sebuah pelajaran penting yang diambil dari kendala -kendala tersebut. Software yang sudah sangat komersial ternyata rentan terhadap serangan virus. Logikanya, orang berlomba mencipta atau mengedarkan virus agar mendapat keuntungan dari penjualan antivirus yang boleh jadi dibuat orang itu sendiri. Siswa-siswa tersadar, dibutuhkan alternatif software yang tidak terlau komersial, sebuah opensource kalau perlu gratis. Pilihan jatuh kepada GNU/Linux Ubuntu 8.04 Hardy Heron. Alasan pertama, ubuntu merupakan proyek internasional yang mencerminkan perikemanusiaan. Kedua, ubuntu berbasis debian, karya suami istri debra dan ian sehingga menutup anggapan perempuan gagap teknologi. Ketiga, mendukung berbagai bahasa sehigga memudahkan pembelajaran multilingual. Keempat, mudah diupgrade. Kelima, mudah digunakan tidak kalah dengan OS komersial. Keenam, murah bahkan gratis. Alasan terakhir terbukti, ketika meminta ke shipit.ubuntu.com, sebulan setelahnya mendapat kiriman CD dan stiker yang cuma terkena ongkos kirim empat ribu rupiah! 


Instalasi Ubuntu berjalan mulus di komputer proyek siswa. Wajah gembira siswa muncul saat kotak username dan password menghiasi monitor mereka. Ketika dicoba koneksi internet, memakai switch hub lancar, lumayan cepat, tidak perlu driver tambahan. Fitur-fitur Ubuntu 8 lumayan lengkap , tidak kalah menarik lagi, docx dan xlsx terbaca di openoffice. Jadi kebutuhan dasar terpenuhi, tinggal menambah program-progam favorit. Siswa-siswa mencoba menambah program paket game berbasis debian. Komentar mereka cukup mudah ternyata, tinggal doubleklik paket, maka akan masuk paket manager dan install, selesai sudah.  


Kemudahan tidak berhenti, ketika mencoba membuka film berformat .AVI totem movie player menunjukkan ada beberapa file program yang belum terinstall sempurna, maka dengan meng-klik confirm, secara otomatis masuk package manager dan install, sistem langsung mendownload kekurangan file,memasang pada totem movie player dan akhirnya mereka dapat menikmati film hasil jepretan mereka sendiri.
Muncul pertanyaan, “Ustadz, kalau mau menginstal program-program yang connect internet, semisal Google Earth bagaimana caranya ?” ustadz raharjo menjawab, “Wah tanya saja kepada google,jangan pada saya!”. Tidak lama setelah mereka googling, didapatkan file GoogleEarthLinux.bin. Sesuai petunjuk, memakai perintah $ chmod +x GoogleEarthLinux.bin dan $ sudo ./GoogleEarthLinux.bin maka Google Earth pun terpasang. “Hey, aku bisa lihat atas rumahku sekarang!” teriak Okky, salah seorang siswa yang disambut tertawaan teman-temannya.


Kesan muram bermigrasi ke open sources mulai hilang dari benak siswa. Apalagi ketika mereka dikenalkan dengan virtual box sejenis virtual machine yang mampu menjalankan Operating System (OS) lain tanpa harus dual booting, mereka semakin bersemangat. Memang virtual box sudah ada dalam paket Ubuntu 8.04, namun harus menambah lagi lewat synaptic package manager. Kebetulan saja ada file gratis Virtual Box kepunyaan Sun Microsystem bawaan DVD InfoLinux edisi 11/2008, maka segera memasangnya. Bahkan mereka mampu menjalankan virtual box tanpa harus mendaftar terlebih dulu ke group vboxusers, dengan cara masuk ke terminal sebagai root dan mengetik # chgrp vboxusers /dev/vboxdrv dan # chmod 660 /dev/vboxdrv. Melalui virtual box, mereka mampu berpindah-pindah OS sesuai keinginan atau sekedar mencoba CD instalasi OS lain tanpa merubah setting.
Kabar penggunaan Open Source pada komputer proyek siswa di Computer Centre SMA IT Nur Hidayah sampai ke pihak yayasan Nur Hidayah. Sambutan yayasan cukup hangat, bahkan ketua umumnya, Drs. Wiranto, M.Kom yang sekaligus dosen dan perintis Laboratorium Komputer Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, tersenyum bangga melihat hasil pembelajaran siswa. Hal ini menunjukkan intutisi pendidikan Nur Hidayah berpartisipasi menyukseskan IGOS (Indonesia Go Open Sources)


Tindak lanjut yang lain, sebagian guru di lingkungan Yayasan Nur Hidayah, mulai bermigrasi ke open source untuk komputer pribadi, seperti ustadz Muhammad Yulianto, S.PdI. Beliau menggunakan Ubuntu Moslem Edition Hardy Heron. “Hitung-hitung mengurangi syubhat pemakaian software komersial bajakan” kata beliau. “Apalagi Ubuntu Moslem Edition dilengkapi program KStars sehingga memudahkan saya menghisab kalender Hijriah” sambung beliau puas. Syukurlah ternyata pengaruh Computer centre juga bermanfaat pada ibadah dan amal jariyah.


Tentu saja riak-riak ketidakpuasan tetap muncul. Beberapa siswa menyayangkan program-program yang lancar di Windows, tidak terdapat padanannya di linux. Ustadz raharjo memahamkan pasti muncul kendala, karena hidup adalah proses memecahkan masalah. Justru dengan muncul masalah maka akan membangkitkan gairah hidup untuk berjuang menembus masalah. Mereka seharusnya mulai berpartisipasi terhadap opensource dari mulai penggunaan hingga kalau mampu ke tingkat programmer. Hal itu bukan mustahil, sebab dengan GNU/Linux mereka akan terbiasa dengan perintah-perintah console/terminal, berikut apa saja yang terjadi pada komputer mereka akibat pelaksanaan perintah yang mereka buat. Namun, untuk kebutuhan praktis saat ini ada program yang dikembangkan, untuk menjembatani banyak program under Windows agar berjalan juga di GNU/Linux, seperti Wine. Ya, walaupun Wine selalu ketinggalan karena Windows selalu memperbaiki performanya dan Wine hanya bisa menjalankan sekitar 80-90 persen, tetapi kehadirannya membuat angin segar bagi para migran pemula . Mendengar pernyataan tersebut, para siswa jadi penasaran “Pasang sekarang dong, Tadz !” pinta mereka. “Eit, nanti dulu, jangan sekarang, nanti saja saat ulangan blok semester, biar kalian tambah mabuk gara-gara Wine ?” ujar ustadz raharjo. Murid-murid tersenyum simpul mendengar perkataan ustadz. “Ah, Ustadz raharjo bisa aja !”

back    Print Artikel    Kirim Artikel    lihat dengan reader


Pesan Singkat
  Tulis Pesan

Home | Profil YNH | Unit Kerja | Rubrik | Forum | Galeri | Download | Kontak | Iklan Baris